UN Kok Mati Listrik !!…

ibook and candle Pagi ini saya membaca dua kabar berita yang saling berkaitan. Kabar yang pertama datangnya dari masyarakat Samarinda – Kalimantan Timur tentang keluhan pemadaman listrik selama Ujian Nasional (UN). Pemberi kabar tersebut (sepertinya seorang siswa sekolah) menyampaikan permohonan kepada PLN kota Samarinda supaya tidak melakukan pemadaman listrik minimal selama Ujian Nasional berlangsung. Kita ketahui bersama selama bulan April ini anak sekolah, terutama yang sudah duduk di kelas tertinggi di setiap tingkatannya sedang disibukan dengan agenda Ujian Nasional.

Ini salah satu kasus yang memprihatinkan. Bisa saja jika saya himpun informasi yang sama seperti diatas, akan didapat lebih banyak lagi kasus serupa di Indonesia ini. Pemadaman listrik, lagi, dan lagi. Kalau boleh menambahkan, sebenarnya banyak sekali kasus pemadaman listrik yang selama ini terjadi. Tidak hanya sebagian masyarakat Samarinda, di Jakarta pun yang tercatat sebagai ibukota negara republik ini di sebagian daerah sering mengalami pemadaman bergilir.

Mengenai hal diatas Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Purnomo Yusgiantoro pernah berujar,

Tidak ada jaminan tahun ini pemadaman bergilir sudah tidak ada lagi, karena berbagai upaya alternatif untuk memenuhi kebutuhan listrik belum dapat memenuhi seluruh permintaan.

Untuk mengatasi krisis yang dimaksud Pak Menteri, solusi yang paling masuk akal adalah membangun ‘pabrik-pabrik’ listrik baru alias pembangkit di setiap daerah. Memang pemerintah sudah mengupayakan untuk membangun pembangkit-pembangkit baru lewat program 10.000 MW tahap I dan II. Alternatif lain melalui program DME atau Desa Mandiri Energi. Tetapi upaya ini tidak signifikan untuk memenuhi kebutuhan listrik masyarakat. Sampai sekarang proyek-proyek pemerintah tersebut banyak yang tertunda. Bocoran dari Pak Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro alasan kuat terhambatnya proyek ini dikarenakan kesulitan mencari pendanaan.

Syukurlah pagi ini saya membaca kabar dari Dirjen Listrik dan Pemanfaatan Energi (LPE) Departemen ESDM J. Purwono. Hal ini menyangkut proyek pembangkit listrik milik swasta atau independent power producer (IPP) yang selama ini tertunda pengerjaannya. Saya pikir ini adalah kabar baik untuk IPP. Kabar baiknya beliau mengatakan, proyek IPP yang macet akan mendapat perlakuan khusus. Mungkin ‘perlakuan khusus’ yang dimaksud Dirjen LPE adalah PRIORITAS untuk MENDAHULUKAN proyek-proyek pembangunan pembangkit listrik swasta yang selama ini tertunda. Maklum saja, mungkin di jajaran LPE Departemen ESDM tidak hanya mengurusi IPP, tapi masih banyak lagi yang lainnya.

☺☺☺
Pahami kerinduan masyarakat akan listrik
Seperti yang kita ketahui, ditribusi listrik di Indonesia dipegang sepenuhnya oleh PLN. Masyarakat dapat mengkonsumsi (membeli) listrik dari PLN dengan tarif harga yang bervarisasi, tergantung berapa besar daya (… VA) yang dipakainya. Sementara pasokan listrik yang akan di jual (reseller) ke masyarakat, PLN mengambil dari unit-unit pembangkit milik pribadi atau membeli dari pembangkit swasta (Independent Power Producer).

Dalam hal ini saya tidak akan menyoroti proyek pembangkit listrik milik pribadi PLN, seperti program 10.000 MW yang sekarang sedang di usahakan pendanaannya ke Bank Cina. Saya hanya ingin membahas pembangkit listrik alternatifan PLN, yaitu pembangkit milik swasta (IPP).

Dalam hal kontrak kerjasama antara PLN dan IPP yang paling vital untuk dibahas adalah mengenai tarif listrik. Mengenai tarif ini kesepakatannya dijelaskan secara mendetail dalam kontrak jual beli listrik atau Power Purchase Agreement. Untuk sampai ke tahap sepakat, yang terjadi belakangan ini memakan waktu yang tidak sedikit. Ada saja pendapat-pendapat yang berbeda dari masing-masing pihak, yang pada akhirnya proyek kembali tertunda atau tidak berjalan sesuai jadwal. Patut dimaklumi karena mungkin masing-masing pihak saling menyesuaikan dengan kondisi perekonomian (nilai Rupiah terhadap USD) saat ini dan yang akan datang, minimal 15 tahun kedepan.

Tetapi, masyarakat Indonesia seperti saya tidak bisa selamanya memaklumi keadaan diatas. Melihat fakta yang ada dilapangan, masyarakat Indonesia sungguh membutuhkan listrik, sudah banyak yang mengeluh dan mengalami kerugian yang tidak sedikit hanya karena listrik padam. Belum lagi yang didaerahnya belum kebagian listrik, ironis karena jaman secanggih ini masih ada daerah yang belum tersentuh listrik.

Untuk itu kepada Bapak-bapak yang ada di IPP dan PLN, yang sekarang sedang sibuk menentukan kesepakatan-kesepakatan penting, segeralah sepakati. Jangan bawa urusan dan kepentingan pribadi ke urusan publik. Kebutuhan publik akan listrik lebih penting dibandingkan berapa uang yang masuk ke kantong pribadi paska kesepakatan-kesepakatan itu dilakukan.

Mungkin ini pikiran saya saja, di luar kendala-kendala teknis seperti IPP yang tidak layak mendapat pendanaan perbankan, pengembang tidak kredibel, dan bahan baku konstruksi pembangkit yang naik tajam, masih terdapat seribu alasan lain yang membuat proyek-proyek ini tertunda. Semoga penyebab utama ketertundaan ini bukan dikarenakan pemikiran untuk mencari untung sebesar-besarnya dari masing-masing pihak.

Jika selama ini IPP dan PT.PLN alot dalam menyepakati kontrak jual beli listrik, sepekatilah dengan segera. Apalagi Dirjen LPE sudah menjanjikan akan ada perlakuan khusus pada proyek-proyek yang sampai sejauh ini macet. Setelah kesepakatan tercapai, insha Alloh proyek akan segera berjalan, karena kontraktor si pelaksana lapangan sudah menunggu jauh-jauh hari untuk memulainya.

Mudah-mudahan ini sampai ke mereka yang bersangkutan. Mampu membuka hatinya untuk mengutamakan kepentingan masyarakat yang sekarang sedang merindukan listrik. Masyarakat sudah kadung tersihir dengan slogan PLN, Listrik untuk kehidupan yang lebih baik. Semoga.

Photo Credit by : Pinot & Dita @Flickr.com

Cari Info :

Lowongan Kerja Terbaru 2010 , atau

Informasi Lowongan Kerja lainnya…

Boleh juga langsung ke Peluang Duit Dari Internet !! !

2 Komentar »

  1. ajeng said

    Bukannya selama ini PLN melenggang seorang diri di ranah itu, konsumen juga jarang komplain dg harga yg PLN patok. Mungkin akan lebih baik lagi kalau ada pesaing yg bergerak dibidang itu (swasta) sehingga PLN tidak lagi ‘berkuasa’ disana. Dengan demikian PLN akan semakin meningkatkan kinerjanya karena adanya persaingan itu.. Hehehe, itu pandangan orang awam sih..

    • pakulangit said

      Terlepas dari pelayanan PLN yang memuaskan atau merugikan konsumen, permasalahan dasar yang sedang dialami negeri kita tercinta ini kurangnya pasokan listrik. Kalau pasokan listrik kurang, otomatis kerja PLN cuma sibuk mengatur jadwal pemadaman listrik. Listrik itu kan bentuknya tersembunyi, tidak seperti potongan gula merah yang pas dibagi-bagi walau kebagian sedikit masih terasa manis. Beda dengan listrik, konsumen harus sepenuhnya mendapatkan pasokan listrik yang full sesuai kapasitas yang terpasang, apabila kurang bisa merusak peralatan-peralatan listrik didalam rumah. Sekedar info, kenapa PLN giat berkampanye “Hemat Energi” karena PLN sudah hilang akal untuk mengatasi krisis energi ini. PLN kurang tanggap dalam menyikapi kebutuhan listrik yang terus naik sementara pasokan listrik cenderung statis, tidak ada pasokan baru. Saat ini PLN giat dengan proyek pembuatan ‘pabrik listrik’nya, kita doakan saja secepatnya terealisasi dan selesai.

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: